Memeriahkan Rasa Syukur

Penulis : Dianti Aslami

“Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar..
Laa ilaahaillallahu wallahu akbar.. Allahu Akbar.. Walillahilham..”

Sepuluh Dzulhijjah kemarin, gema takbir terdengar begitu indah, menyayat jiwa-jiwa yang rindu akan hari Kemenangan. Pertanda hari raya Idul Adha telah tiba. Rasa-rasanya, ada yang sudah kekenyangan atau sampai sudah bosan dengan berbagai macam olahan daging di masing-masing kediamannya. Apalagi aku yang sangat suka dengan berbagai macam olahan dari daging sapi maupun kambing. Yummy.. langsung terbayang rendang super lezat buatan mamahku.

Meskipun moment Idul Adha kali ini jelas berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tapi alhamdulillah di Indonesia masih tetap melaksanakan ibadah menyembelih qurban dengan tetap menerapkan protokol kesehatan pastinya. Namun, para warga di daerah tempat tinggalku masih terbilang tidak terlalu mematuhi protokol kesehatan. Karena, saat di tempat-tempat penyembelihan hewan qurban kemarin, para warga yang menonton banyak sekali yang tidak menggunakan masker dan masih berkerumunan. Ya begitulah, jika dari diri sendiri tidak peduli dan tidak sadar akan pentingnya menerapkan protokol kesehatan.

Moment hari raya Idul Adha memang tidak seramai saat hari raya Idul Fitri. Tapi, uniknya hanya di Negara Indonesia saja yang memiliki tradisi-tradisi saat hari raya. Saat hari raya idul Fitri adalah moment yang ditunggu-tunggu untuk berkumpul dengan keluarga atau biasanya populer dengan kata ‘mudik’ dan saling memaafkan satu sama lain. Sedangkan saat hari raya Idul Adha adalah moment untuk menyembelih hewan qurban dan menikmati berbagai macam olahan daging qurban bersama keluarga atau orang-orang terdekat kita. Bagiku, baik hari raya Idul Fitri maupun hari raya Idul Adha itu sama saja. Keduanya sama-sama hari kemenangan dan hari yang paling dimuliakan oleh Allah.

Hal terpenting adalah bagaimana keadaan iman dan ketaqwaan kita saat menuju hari kemanangan dan saat setelah hari kemenangan nantinya? Apakah kita benar-benar sudah kembali menjadi manusia yang diampuni dosa-dosanya oleh Allah?

Hari raya idul adha di tengah pandemi ini banyak sekali hal-hal yang benar-benar menampar dan menggugah jiwaku. Banyak sekali rasa syukur yang harus ku perbanyak. Banyak sekali pelajaran dan hikmah yang harus ku ambil. Aku baru tahu tentang makna yang begitu dahsyat di balik moment ibadah penyembelihan hewan qurban yang Allah perintahkan kepada kekasihnya yakni Nabi Ibrahim a.s. Seorang Nabi yang Allah uji dengan tidak dikaruniai seorang anak. Namun, diusianya yang sudah senja, sudah menginjak sekitar 86 tahun barulah di karuniakan seorang anak yang sholih, sabar dan sangat taat yakni Ismail. Namun, ujian belum selesai sampai di situ. Ternyata, Allah masih ingin mengetest seberapa besar kecintaan Nabi Ibrahim pada Allah dengan memerintahkan dirinya untuk menyembelih anak tercintanya Ismail kecil. Kerennya, Ismail kecil begitu sabar dan taat terhadap bapaknya atas perintah dari Allah lewat mimpi Nabi Ibrahim. Saat pisau sudah menyentuh pelipis Ismail kecil, Maha Besar Allah atas segala kuasa-Nya yang segera menggantikan Ismail kecil dengan Domba besar dan gagah dari Surga.

Apakah kamu tahu? Sejatinya, Allah tidak pernah menginginkan Nabi Ibrahim untuk membunuh anaknya. Namun, Allah ingin Nabi Ibrahim a.s untuk membunuh rasa cintanya yang berlebihan kepada anak,istri dan keluarganya. Dan benar, kecintaan Nabi Ibrahim a.s kepada Allah benar-benar sudah terbukti dan tidak perlu diragukan lagi.

Dari kisah penuh hikmah di balik moment ibadah penyembelihan qurban yang dialami oleh keluarga Nabi Ibrahim a.s, sudah sepantasnya kita mengais sebanyak-banyaknya pelajaran tentang mengorbankan segalanya karena Allah, tentang apa yang kita miliki saat ini hanyalah sebuah titipan, tentang pembuktian cinta kepada Allah, tentang keimanan dan kesabaran saat menghadapi ujian, dan tentang bertawakkal hanyalah kepada Allah. Aku sungguh malu di hadapan Allah.. Bagaimana aku bisa dengan entengnya mengatakan “Aku mencintai Allah” sedangkan aku belum sepenuhnya membuktikan kecintaanku dengan sebenar-benarnya iman dan taqwa.

Hari raya Idul Adha di tengah pandemi ini, ada banyak manusia yang membutuhkan uluran tangan-tangan sang dermawan, ada titipin harta yang harus disedekahkan di jalan-Nya. Nyatanya, memberi tidak harus menunggu kaya, berjuang tidak harus menunggu gagal, dan bangkit tidak harus menunggu jatuh. Maka dengan berkorbanlah, entah dengan hartanya, tenaganya, waktunya, pikirannya, semoga benar menjadi suatu wujud rasa syukur dan bukti kecintaan kita pada Allah bukan lagi semata karena manusia. Mari merayakan pengorbanan dengan memeriahkan rasa syukur dengan seramai-ramainya di hati kita.

2 tanggapan pada “Memeriahkan Rasa Syukur”

Komentar ditutup.