DITUNTUT LEBIH PEKA

Ditulis oleh : Titan Bagus Bramantyo


Andai serangkaian peristiwa itu bisa berbicara, mungkin ia ingin berucap pada orang-orang tak punya pikir, “Duhai manusia, tidakkah kau lihat pelajaran di sana?”. Ia hanya ditatap kosong. Dibungkam seribu bahasa, lalu dilanjutkanlah memelihara jumudnya pikir dengan sempurna oleh orang-orang itu.

Lalu peristiwa-peristiwa itu melanjutkan tanya, “Duhai manusia, makhluk yang “katanya” berakal! Lihatlah! Tidakkah malu pada hewan-hewan itu yang tetap menjaga nalurinya -jantan dengan betina, betina dengan jantan-?”. Tapi, akal mereka terlanjur rusak lalu dipaksa-paksakan agar tampak berguna. Akalnya cacat, nafsunya menggeliat. Akhirnya kebodohan terwujud nyata di depan mata, jadilah mereka “Si Kaum Pelangi” yang beraksi atas nama kebebasan -omong kosong sebenarnya-.

Dilanjutkannya lagi bertanya oleh peristiwa, “Duhai manusia, tidakkah sadar pula? Lihatlah betapa menggelikannya mereka yang berkuasa! Mereka tak segan-segan untuk menelan kembali ludahnya dan lidahnya begitu lihai membelokkan fakta.” Lagi-lagi pertanyaannya hanya dianggap sebatas dongeng retorika belaka oleh mereka, si orang-orang yang malas berpikir.

Tapi cobalah tengok, bagaimana peristiwa-peristiwa itu berbincang hangat dengan mereka orang-orang berakal nan beriman.

Sebelum peristiwa-peristiwa itu bertanya, mereka yang berakal juga beriman sudah duluan berucap, “Wahai peristiwa, terima kasih atas hadirmu di sini! Ribuan pelajaran telah kami petik dari ranting-ranting alur waktumu. Doakan agar maksud hadirmu tercerna baik oleh kami.”. Peristiwa singkat menjawab, “Itulah maksud hadirku di sini, menggerakkan pikiran orang-orang yang berakal.”.

Tadinya peristiwa hendak bertanya seperti tanyanya yang kedua pada orang-orang bodoh, tapi orang-orang berakal nan beriman sudah duluan paham. “Tenang. Mana mungkin akal kami cacat, sedangkan ajaran yang kami dapat adalah bersumber dari Yang Maha Sempurna? Jangankan akal, nafsu pun telah tuntas dibahas dan dituntun dalam risalah-risalah-Nya.

Dan orang-orang berakal juga beriman itu memberikan kesempatan pada peristiwa untuk bertanya tentang kekuasaan seperti tanyanya pada orang-orang bodoh tadi. “Duhai manusia, tidakkah sadar pula? Lihatlah betapa menggelikannya mereka yang berkuasa! Mereka tak segan-segan untuk menelan kembali ludahnya dan lidahnya begitu lihai membelokkan fakta.”. Dengan mantap dijawab oleh mereka -si orang-orang berakal-, “Demi Rabb kami, yang kuasa-Nya meliputi langit-bumi dan juga di antara keduanya! Kami paham bahwa kuasa tanpa tuntunan-Nya hanya sebatas panggung komedi menggelikan dan menjerumuskan. Oleh karenanya, kami berjuang menghadirkan tuntunan dari-Nya di penjuru-penjuru kehidupan. Agar semua tertuntun dan tertuntaskan dengan baik. Yang dengan tuntunan-Nya saja masih berpotensi khilaf, apalagi dengan tuntunan manusia yang serba terbatas?! Cacatnya bukan main!”

Lihat! Betapa mesranya dialog antara orang-orang berakal dengan peristiwa yang menghampiri. Darinya lahir kesadaran berjuang tanpa orientasi pada hasil kasat mata. Darinya juga lahir ketenangan di tengah riuh-resahnya keadaan. Serta darinya lahir pandangan masa depan yang tak bisa dijangkau oleh orang-orang bodoh nan berorientasi dunia. Semoga aku, kamu, dan juga mereka tergolong ke dalam orang-orang kedua. Eh, maksudnya orang kedua -orang yang berakal juga beriman-.