Lailatul Qadar akan Terjadi pada 10 malam terakhir Bulan Ramadhan?

Penulis : Novira

 Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillah, ditengah cobaan pandemi covid-19 ini kita masih diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk bertemu kembali dengan bulan yang penuh kemuliaan. Bulan yang istimewa, bulan yang penuh keberkahan segala doa akan dikabulkan dan umat islam berlomba-lomba mendapatkan ampunan di bulan suci ini. Salah satu hari yang dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia adalah malam seribu bulan atau yang disebut malam Lailatul Qadar, bahkan ada beberapa golongan yang mengesampingkan aktivitas duniawi untuk memperoleh malam yang penuh dengan kemuliaan ini.

Dibalik keagungan malam Lailatul Qadar menimbulkan pertanyaan yang hingga sekarang masih belum terungkap, yaitu Kapankah malam Lailatul Qadar dalam Bulan Ramadhan ini akan terjadi?

Secara spesifik tidak ada satu dalil pun yang menerangkan tentang hal demikian, namun ada beberapa indikasi dalil yang memerintahkan untuk memperbanyak ibadah di 10 malam terakhir Bulan Ramadhan. Beberapa Ulama menafsirkan bahwa anjuran meningkatkan ibadah pada malam tersebut merupakan salah satu indikasi bahwa malam itu adalah malam terjadinya Lailatul Qadar.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan :

تحروا ليلة القدر في العشر الأواخر من رمضان

“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” [HR. Bukhari & Muslim]

Tepatnya pada malam-malam yang ganjil di antara malam-malam yang sepuluh tersebut, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

تحروا ليلة القدر في الوتر من العشر الأواخر من رمضان

“Carilah lailatul qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” [HR. Bukhari]

Tapi di malam manakah di antara malam-malam yang ganjil? Apakah di malam 21, malam 23, malam 25, malam 27 atau malam 29?

Pernah di suatu tahun pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Lailatul Qadar jatuh pada malam 21, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri bahwa di pagi hari tanggal 21 Ramadhan tahun itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إني أريت ليلة القدر

“Sesungguhnya aku diperlihatkan Lailatul Qadar (malam tadi).” [HR.Bukhari & Muslim]

Pernah pula di suatu tahun Lailatul Qadar jatuh pada malam 27. Ubai bin Ka’ab berkata :

والله إني لأعلمها وأكثر علمي هي الليلة التي أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم بقيامها هي ليلة سبع وعشرين

“Demi Allah aku mengetahuinya (Lailatul Qadar), perkiraan saya yang paling kuat dia jatuh pada malam yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk bangun malam di dalamnya, yaitu malam dua puluh tujuh.” [HR. Muslim]

Pada tahun yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabatnya untuk mencari Lailatul Qadar pada tujuh malam terakhir dari bulan Ramadhan :

فمن كان متحريها فليتحرها في السبع الأواخر

“Barang siapa yang ingin mencarinya (Lailatul Qadar) hendaklah ia mencarinya pada tujuh malam terakhir (dari Bulan Ramadhan).” [HR. Bukhari & Muslim]

Cara memadukan antara hadits-hadits tersebut di atas : dengan mengatakan bahwa Lailatul Qadar setiap tahunnya selalu berpindah-pindah dari satu malam yang ganjil ke malam ganjil lainnya, akan tetapi tidak keluar dari sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan (Lihat Fathul Baari karya Ibnu Hajar, dan Asy-Syarh al-Mumti’ karya Syaikh al-Utsaimin (6/493-495)

Hikmah Dirahasiakannya Malam Lailatul Qadar

Agar amal ibadah kita lebih meningkat, Sebab dengan dirahasiakannya kapan waktu Lailatul Qadar, kita akan terus memperbanyak shalat, dzikir, doa dan membaca Al-Qur’an di sepanjang malam-malam sepuluh terakhir Bulan Ramadhan terutama malam yang ganjil.

Sebagai ujian dari Allah ta’ala, untuk mengetahui siapa di antara para hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam mencari Lailatul Qadar dan siapa yang bermalas-malasan serta meremehkannya (Majaalisu Syahri Ramadhaan, karya Syaikh al-’Utsaimin hal: 163)

Maka seharusnya kita berusaha maksimal pada sepuluh hari itu; menyibukkan diri dengan beramal dan beribadah di seluruh malam-malam itu agar kita bisa menggapai pahala yang agung tersebut.

Mungkin saja ada orang yang tidak berusaha mencari Lailatul Qadar melainkan pada satu malam tertentu saja dalam setiap Ramadhan dengan asumsi bahwa Lailatul Qadar jatuh pada tanggal ini atau itu, walaupun dia berpuasa Ramadhan selama 40 tahun, barangkali dia tidak akan pernah sama sekali mendapatkan momen emas itu dan hanya disesali dengan penyesalan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan teladan :

كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر شد مئزره وأحيا ليله وأيقظ أهله

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika memasuki sepuluh (terakhir Ramadhan) beliau mengencangkan ‘ikat pinggangnya’, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” [HR. Bukhari & Muslim]

Sekali lagi, tidak ada yang tahu pasti kapan terjadinya Lailatul Qadar. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk banyak meminta maaf atau memohon ampunan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala di sepuluh malam terakhir Bulan Ramadhan. Karena orang yang arif adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam beramal, namun dia masih menganggap bahwa amalan yang ia lakukan bukanlah amalan, keadaan atau ucapan yang baik (sholih). Oleh karenanya, ia banyak meminta ampun kepada Allah seperti orang yang penuh kekurangan karena memiliki banyak dosa. Wallahu a’lam.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh