Ramadhan di Masa Pandemi Corona? Apa yang Harus diperhatikan?

Photo by Matt Seymour on Unsplash

Alhamdulillah, washalatu wassalamu ‘ala Rasulillah la haula wa la quwwata illa billah amma ba’du.

Ramadhan kali ini berbeda dengan Ramadhan kita yang sebelumnya. Mengapa? Karena menjalani ibadah puasa di masa pandemi corona. Hal ini membuat kita tidak bisa berkumpul bersama keluarga seperti biasanya, ditambah aturan dari pemerintah agar kita memberlakukan social distancing dan menjaga jarak dengan orang lain.

Melihat situasi ini, MUI mengeluarkan fatwa agar kita beribadah dirumah saja, dan mengurangi aktifitas berkumpul diluar seperti shalat jumat berjamaah serta meniadakan acara-acara keagamaan lainnya. Hal ini tak lain untuk memutus penyebaran virus corona itu sendiri. Kali ini kita akan membahas tentang ibadah selama masa pandemi.

Beberapa hal yang perlu kita perhatikan ketika beribadah di masa pandemi, diantaranya :

  1. Shalat di masjid dengan shaf yang berjauhan

Selama masa pandemi ini ada yang memilih shalat dirumah sesuai anjuran pemerintah, dan ada juga yang memilih berjamaah di masjid dengan membuat jarak antar shaf sekian meter, lalu bagaimana hukumnya?

Hukum meluruskan shaf adalah sunnah menurut jumhur ulama. Ulama yang menyatakan wajib, seperti Ibnu Hajar Al’Asqalani, tetapi tidak menganggapnya sebagai syarat sah shalat. Shaf yang lurus yaitu shaf yang rapat. Cara meluruskan shaf yaitu dengan mendekatkan mata kaki dan pundak. Jika shaf yang lurus dihukumi sunnah maka shaf yang rapat dihukumi sunnah juga.

Bagaimana jika baris shaf saling berjauhan? Jika dikhawatirkan terkena penyakit menular, atau sebab lainnya, shaf depan dan belakang dibuat lebih lebar. Ibnu Taimiyyah rahimahullah sendiri menganggap bahwa membentuk baris shaf itu wajib. Namun, beliau rahimahullah membolehkan tidak dibuat barisan shaf ketika mendesak, contohnya ketika terdapat penyakit menular.

2. Meninggalkan shalat jum’at 3 kali tidaklah menjadi munafik

Dari Abu Hurairah dan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhum, bahwa mereka berdua mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di atas tiang-tiang mimbarnya,

“Hendaklah orang-orang berhenti dari meninggalkan Jumat atau Allah pasti akan menutupi hati mereka kemudian mereka menjadi orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim, no. 865).

Dalam hadits lain disebutkan,

“Barang siapa meninggalkan shalat Jum’at sebanyak tiga kali karena lalai terhadap shalat tersebut, Allah akan tutupi hatinya.” (HR. Abu Meninggalkan Shalat Jumat Tiga Kali Saat Pandemi Tidaklah Jadi Munafi Ramadhan dan Hari Raya Saat Corona 27 Daud, no. 1052; An-Nasai, no. 1369; dan Ahmad 3:424. Kata Syaikh Al-Albani hadits ini hasan sahih).

Hadist di atas menunjukkan hukuman bagi orang yang meninggalkan shalat Jum’at sebanyak tiga kali tanpa ada udzur, berturut-turut maupun terpisah. Riwayat tersebut juga menunjukkan bahwa meninggalkan shalat Jum’at yang dihukumi tertutup hatinya adalah jika meninggalkannya tanpa uzur, dengan meremehkan, atau bermalas-malasan. Sedangkan meninggalkan shalat Jum’at karena darurat atau terdapat uzur seperti sakit, safar, atau tersebarnya wabah penyakit seperti saat ini maka dibolehkan untuk meninggalkan shalat Jum’at.

3. Shalat tarawih di rumah

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barang siapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 37 dan Muslim, no. 759).

            Hukum shalat tarawih adalah sunnah muakkad. Dalam mazhab Syafii, shalat tarawih itu lebih afdal berjamaah. Inilah pendapat yang shahih. Sedangkan pendapat lainnya mengatakan bahwa shalat tarawih lebih afdal dikerjakan munfarid. Lihat Al-Majmu’ (3:363).

Berikut adalah hadist yang menunjukan shalat tarawih boleh dikerjakan munfarid.

            Dari Zaid bin Tsabit bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat ruangan kecil di masjid dari tikar di bulan Ramadhan. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di situ beberapa malam hingga orang-orang pun berkumpul kepada beliau. Kemudian pada suatu malam mereka tidak mendengar suara beliau, maka mereka menyangka beliau telah tidur. Sebagian mereka berdehem agar beliau keluar kepada mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ,

“Kalian masih melakukan apa yang aku lihat dari sikap kalian. Aku khawatir shalat ini akan diwajibkan bagi kalian. Kalau shalat tarawih diwajibkan, kalian tidak bisa melaksanakan. Hendaknya kalian shalat di rumah-rumah kalian karena sesungguhnya shalat seseorang yang terbaik adalah di rumahnya kecuali shalat fardhu.” (HR. Bukhari, no 7290)         

4. Shalat tahajud

Tidak ada larangan untuk menambah shalat malam, karena jumlah rakaat shalat tidak ada batasannya. Yang penting tidak ada dua witir dalam satu malam. Dari Thalq bin Ali, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam.” (HR. Tirmidzi, no. 470; Abu Daud, no. 1439, An-Nasa-i, no. 1679. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadist ini sahih).

Ikhwan wa akhwati fillah bagaimanapun kondisinya, teruslah bersemangat dalam beribadah dan hanya mengharapkan ridho Allah Subhanahu Wa Ta’ala serta tak lupa untuk tetap mengedepankan kaidah-kaidah kesehatan.

 Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar (perjalanan jauh), maka dicatat baginya pahala sebagaimana kebiasaan dia ketika mukim dan ketika sehat.” (HR. Bukhari, no. 2996).

Berdasarkan hadist tersebut, Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah mengatakan, “Hadits di atas berlaku untuk orang yang ingin melakukan ketaatan lantas terhalang dari melakukannya. Padahal ia sudah punya niatan kalau tidak ada yang menghalangi, amalan tersebut akan dijaga rutin.” (Fath Al-Bari, 6:136).

Jadi, kita akan tetap dicatat pahala seperti kebiasaan Ramadhan kita. Misalnya, kalau kita sudah terbiasa di masjid untuk shalat tarawih, pahala shalat tarawih tetap akan diperoleh walaupun kita melakukannya di rumah karena keadaan pandemi corona.

Wallahu A’lam

Referensi : Ramadhan dan Hari Raya saat pandemi corona , Muhamad Abduh Tuasikal