TADABBUR SURAT YAASIN

RESUME KAJIAN

TADABBUR SURAT YAASIN
Ustadz Syatori Abdul Rauf
Senin, 18 November 2019
@masjidnurulashri
____

وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ

“Demi Al Quran yang penuh hikmah”
(QS Yaasiin: 2)

Ayat ini bicara bahwa Al Qur’an penuh dengan hikmah. Hikmah adalah ruang kehidupan tempat manusia mendatangi semua kebaikan. Artinya jika kita mau menjadi orang baik, kita harus mau mendatangi kebaikan. Sebab kebaikan atau keburukan sifatnya pasif, harus kita yang mendatangi salah satunya.

Jika kita bertemu dengan orang atau lingkungan yang tidak baik, maka sebenarnya tidak masalah karena kebaikan justru muncul ketika disandingkan dengan keburukan.

Hikmah Allah berikan kepada siapapun yang Dia kehendaki.

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).”
(QS Al Baqarah: 269)

Siapa orang yang Allah beri hikmah?
Yaitu orang yang mau mendatangi hikmah dan membuka pintunya.

Hukum kebaikan adalah setiap kebaikan akan terhubung dengan kebaikan yang lain. Misal: tidak semangat kerja pagi karena semalam tahajud. Padahal, tahajud kan kebaikan. Harusnya menjadi buah bagi kebaikan yang lain. Kalau tidak, maka tahajudnya tidak dilakukan di ruang hikmah (baik yang hanya kebetulan saja)

Bagaimana cara menjadi orang baik?
Yaitu dengan mengetuk pintu hikmah, dan pintu hikmah itu adalah Al Qur’an

Namanya “mengetuk” berarti posisi kita harus sangat dekat dengan pintunya (Al Qur’an)

Apa saja pintu hikmah itu?
1⃣ TAKDZIM
Ukuran takdzim dilihat dari sikap seseorang terhadap Al Qur’an. Jika pintu takdzim terbuka, maka seseorang akan mendapat 2 fondasi kebaikan yaitu:
1) Orang tersebut akan dapat memandang besar segala sesuatu yang ada kaitannya dengan Allah. Jika tidak ada kaitannya dengan Allah, maka tidak dipandang besar.
📁Kasus 1: Menikah dijodohkan orang tua, lalu merasa menyesal melihat wajah pasangan. Padahal wajah tersebut tidak ada kaitannya dengan Allah, artinya sebenarnya ini bukan masalah besar. Tapi, ada orang yang membesar-besaran masalah tersebut.
📁Kasus 2: Sedih karena semalam nggak nonton bola, padahal ini adalah urusan kecil.

Para shalafush shalih dulu merasa kecewa ketika tidak menjadi imam sempurna) tertinggal takbiratul ihram). Bagaimana dengan kita?

Kalau menganggap besar sesuatu yang kecil dan sebaliknya, maka tidak akan terbuka pintu takdzim.

2) Ketika dia melakukan kebaikan, sepenuhnya antara saya dengan Allah.
📁Misal: Mengapa sholat berjamaah? Karena Allah suka. Mengapa mengaji? Karena Allah suka.

Pintu hikmah yang lain yaitu pintu taubat, syukur, khauf, dll yang semuanya ada di dalam Al Quran. Maka pantaslah jika Al Qur’an disebut sebagai ruang kehidupan yang penuh dengan hikmah.

Sudahkah kita mengetuk pintu hikmah (Al Qur’an)?
Caranya adalah dengan mau mengambilnya, membukanya, membacanya, mentadaburinya, dst

بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ

“Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.”
(QS Al Ankabut: 49)

Bahwa ayat quran itu sebenarnya sudah jelas bagi orang yang berilmu.

Sebagai contoh:
👉🏻 Balaslah keburukan dengan kebaikan. Tugas kita adalah menjadikan ini sebagai amal, namun apakah berat?
👉🏻 Jangan membicarakan keburukan orang lain. Apakah berat bagi kita?

Sayangnya, pada rambu-rambu yang dibuat manusia, kita bersedia taat. Namun kepada rambu yang dibuat oleh Allah, tidak taat.

Pintu Qur’an tidak akan terbuka apabila masih ada gembok hubbud dunya (cinta kepada dunia)

Bagaimana agar pintu hikmah (Qur’an) ini benar-benar terbuka?
Yaitu meluruskan kembali apa itu masalah. Masalah, kita lihat sebagai potensi. Misal dihina orang, maka sebenarnya a) dia sedang memberi pahala bagi kita; b) dia sedang menempa kita menjadi pribadi yang kuat

Bagaimana agar cinta kita pada dunia berkurang?
Yaitu dengan mengerti bahwa dunia dengan segala kesenangannya adalah ujian untuk menyeleksi siapa saja yang paling baik amalnya.

Manusia dalam menghadapi kesenangan dunia dibagi menjadi 4 macam:
1) tenggelam
Yaitu manusia yang orientasinya kesenangan dunia

2) berenang
Yaitu manusia yang nampaknya asyik, berenang dengan dunia dan akhirat. Ngaji rajin, nonton bola rajin. Suka mendengarkan quran, namun juga suka mendengarkan musik jahil. Sekuat-kuatnya berenang akan tenggelam juga, sehingga nasibnya akan sama seperti no 1.

3) berlayar (dengan perahu sederhana)
Yaitu orang yang mengarungi hidup dengan amal-amal akhirat namun menjalaninya dengan berat. Tidak suka pada dunia tapi berat menjalankan ibadah akhirat. Bahaya jika terkena badai kesenangan duniawi.

4) berlayar (dengan perahu layar)
Yaitu orang yang berlayar dengan amal-amal akhirat, ringan melakukannya tapi belum merasakan manisnya. Sama bahayanya jika terkena badai, bisa terombang-ambing lalu tumbang.

5) berlayar (dengan perahu mewah). Yaitu orang yang mengarungi dunia dengan amal akhirat dan hati yang penuh syukur menjalaninya. Termasuk kepada orang yang ahsanu amala.

Ada 2 poin agar nilai hidup kita ahsanu amala (sebaik-baik amal):
1) Apapun yang kita lakukan adalah wujud syukur kepada Allah
2) Kita bahagia dalam ketaatan

Kita, termasuk yang mana?

📝 Resume oleh:
Relawan @masjidnurulashri
___

Kajian ini dapat disimak melalui channel youtube NURUL ASHRI

#resumekajian
#kajianmuslim
#infokajianjogja
#masjidnurulashri
#nurulashrideresan