Karya Segenggaman Tangan

Ada teknologi super canggih yang sering tidak disadari manusia. Letaknya dekat sekali, harganya tak ternilai, sudah ada sejak jutaan tahun lalu, tapi sering tidak dimanfaatkan dengan baik. Teknologi itu bernama Tangan.

Sebuah paduan tulang-belulang dengan sendi-sendinya yang presisi, berbalut daging otot, dilalui lalu lintas pembuluh darah bolak-balik yang bergerak dengan amat disiplin. Ujung teknologi ini dilengkapi dengan jari jemari. 28 jumlah ruasnya. Dapat bergerak lentur mengerjakan hal yang amat detail. Coba perhatikan kedua tanganmu. Hingga saat ini pun, tak mampu manusia menciptakan teknologi sehebat tangan.

Hebatnya sebuah tangan ini. Para ulama dahulu dapat menulis ratusan buku dengan tangannya. Hanya dengan kertas dan pena sederhana, ditambah lentera api kecil jika malam hari menjelang. Keterbatasan tak menyurutkan sedikit pun merekaberkarya. Bahkan untuk menduplikasikan buku pun mereka harus menulis ulang dengan tangannya, tak ada alat scan atau photocopy seperti hari ini. kita? mengetik puluhan lembar saja sudah ribut mengeluh.

Satu orang bisa menulis ratusan jilid buku. Jika ada 1000 ulama? bisa kau bayangkan banyaknya karya pada zaman itu? bisa kau bayangkan bagaimana kebiasaan membaca mereka? bisa kau bayangkan kebiasaan menuntut ilmu mereka?

Bukan main!
Mereka lah jiwa-jiwa penuh gelora. Jiwa-jiwa yang haus meneguk ilmu pengetahuan akan semesta, lalu makin menggebu untuk menyampaikan seluas-luasnya. Jiwa yang akan selalu cemas
jika satu detik saja terlalui dengan sia-sia.

Seperti Imam Bukhari yang langsung terlecut semangat nya saat gurunya berharap, “Andai saja ada yang mau mengumpulkan hadits-hadits sahih, lalu menuliskannya dalam sebuah kitab”
Tanpa babibu, ia langsung mengerjakan mega proyeknya siang dan malam. la tahu benar proyek ini akan sangat bermanfaat  bagi umat Islam kelak. Ya, benar saja, nama Imam Bukhari masih
terus bergaung hingga hari ini. Karyanya abadi, berpengaruh dalam kehidupan muslim sedunia.

Seperti guru Imam Bukhari, Ubaid bin Yaisy, yang selama 30 tahun tidak pernah makan malam dengan tangannya karena amat sibuk menulis hadits. “Saudara perempuanku lah yang menyuapi
ku,” ujarnya.

Seperti Imam Al-Khatib Al-Baghdadi, ahli hadits dari Baghdad, bahkan dalam keadaan berjalan sekalipun ia masih tetap membaca dan menelaah buku.

Seperti Abu Abdillah, yang jika musim panas tiba, ia menulis sambil berendam untuk menjaga kondisi tubuhnya agar tetap dingin

Seperti lbnu Manzhur, yang selalu menghabiskan malam-malamnya untuk menulis. la bahkan meletakkan bejana air di sampingnya agar saat kantuk menyerang, dibasuh lah air tersebut pada mukanya

Seperti Abu Sa’d As-Sam’ani yang tetap produktif menulis. walau kesepuluh jarinya harus diamputasi karena sebuah penyakit. la gunakan telapak tangan, dan kedua kaki untuk memegang kertas agar tetap bisa menulis.

Seperti lbnu Main yang amat produktif, hingga mampu meninggalkan 100 rak buku dan 14 belas wadah besar berisi karya  tulisnya selama ia hidup. Seperti lbnu Syahim yang telah menulis 330 karya tulis. Ibnu Aqil, yang menulis dalam berbagai disiplin
ilmu sekitar 20 buku. Dan karya terbesarnya adalah Al-Funun yangterdiri dari 400 jilid (bahkan sebagian ulama mengatakan 800 jilid).

Seperti Ibnul Jauzi, yang selama 89 tahun hidupnya, telah merampungkan 500 kitab!
Seperti lbnu Taimiyah, yang bahkan karyanya tak dapat dihitung, “Adapun karya tulis lbnu Taimiyah,
sungguh telah merata ke seluruh dunia dan sangat banyak sekali hingga tidak mungkin bagi seseorang untuk menghitung atau mendatanya.” ujar lbnu Rajab.

Jutaan karya menerangi. Mereka tahu benar cara menggunakan teknologi canggih, bernama tangan itu. Islam gilang gemilang. Ilmu pengetahuan maju dengan amat pesat
Maka tak heran pada 1258 M, saat pasukan Tartar dari Mongolia, yang dipimpin Hulagu Khan menaklukkan Baghdad, kavalerinya membuang buku-buku yang berada di perpustakaan Bagdhad ke sungai Tigris. Lebar Sungai Tigris mirip Sungai Nil, kedalamannya 10-11 meter. Ribuan buku, ribuan ilmu dihambur-hamburkan keatasnya, bertumpuk menjadi jembatan untuk kuda-kuda menyebrang. Air sungai menghitam penuh lunturan lImu pengetahuan.

Maka tak heran, saat abad ke-11, saat Andalusia menemui ajalnya, Reconquista Kristen Spanyol membakar satu juta buku dalam sehari di lapangan Granada. Jutaan ilmu pengetahuan terbakar. Berterbangan menjadi abu menyesakkan seisi kota.
Begitu gambaran bagaimana dahulu karya karya besar begitu melimpah walau dalam keadaan serba susah.

Lalu bagaimana dengan kita?
Seharusnya dengan perkembangan zaman yang amat pesat, karya yang kita hasilkan jauh lebih banyak dari mereka.

Berapa banyak orang yang harga perawatan tangannya jutaan rupiah perbulan, tapi tak senilai dengan karya yang ia hasilkan.
Berapa banyak orang yang harga leptopnya senilai puluhan juta rupiah, dilengkapi puluhan software canggih, dengan procesor paling mutakhir, tapi tak mampu produktif berkarya.
Berapa banyak orang yang tinggal dalam apartemen nya man dan mewah, tapi tak mampu membuat karya sefenomenal tafsir Fizhilalil Quran, yang bahkan ditulis di dalam penjara lengkap dengan siksaan.

Ternyata berkarya bukan tentang seberapa lengkap fasilitas yang kau miliki. Bukan tentang seberapa mahal peralatan yang kau punya. Ini tentang paduan keimanan, yang berpadu dalam ketaatan.
Seberapa kuat ia menggebu untuk mampu bermanfaat bagi sebanyak mungkin manusia.
Karena teknologinya sudah ada digenggaman tangamu.
Sekarang tinggal bagaimana kau mau memanfaatkannya.

Link : ukijashtis.or.id
Sumber : Buku Seni Tinggal di Bumi. Karya Farah Qoonita